Ideologi dan Doktrin Zionis

Dokter Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang
terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari
Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom.

“Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman
telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit,
orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan
mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh
tank-tank Israel, ” tulis Dokter Ang.

Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit
Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien.
Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu
sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit
berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka
berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank.

Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak
lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung
sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang
oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter.

Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul
suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah
berhenti.

“Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada
pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu
betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di
kamp.

Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali
perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker
Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi
Kristen Phalangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp
Sabra-Shatila.

Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi
pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan
sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil
menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka
lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Para
perempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina
diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak
anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain
tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama
kalinya, aku menangis di sini. ”

Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida
paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3. 297
orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan
bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB
dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini. Media Barat
pun banyak yang berupaya menutup-nutupi fakta yang terjadi.

Doktrin Rasisme Talmud

Yang
jadi pertanyaan: Mengapa orang-orang Israel itu mampu melakukan
kesadisan dan kebiadaban yang amat mengerikan terhadap orang Palestina
yang sama sekali tidak berdaya apa-apa.

Jawabannya diberikan sejarawan Illan Pappe, seorang Yahudi yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”.

Pappe adalah salah satu sejarawan Yahudi yang memilih memihak pada
hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat
ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap
orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang
pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman
kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda
tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan
sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi
rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir
tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh
kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir
primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah
dirampas tanahnya. ” (Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999, http://msanews. Mynet.net/Scholars/Loos/pappe. Html).

Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar.
Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka.
Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang
manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.

Sejak Usia Dini

Penanaman
doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum
Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh
Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84
anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies, sungguh mengguncang nalar kita.

Ketika itu Ary ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak
anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang
sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas
dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat
anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”

Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka
suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina menulis surat
mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja
yang mereka tulis?

Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia
8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina
seusianya. Isi suratnya antara lain:

“Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan
membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami,
wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana
kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya
mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan
dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…”

Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya
menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.(!)

Ayat-Ayat Talmud

Di bawah ini adalah segelintir ayat-ayat Talmud yang dijadikan
doktrin perang tentara Israel. Dalam peperangan, seorang tentara Israel
wajib mendaras Talmud dalam kesempatan yang khusus. Terlebih di hari
Sabbath (Sabtu).

– “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghoyim (non-Yahudi)” (Baba Kamma 113a)
– “Semua anak keturunan Ghoyim sama dengan binatang, ” (Yebamoth 98a)
– “Seorang Ghoyim yang berbaik pada Yahudi pun harus dibunuh, ” (Soferim 15, Kaidah 10)
– “Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan, ” (Chullin, 19b)
– “Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik di mana pun
mereka berada. Sekali pun mereka juga melakuan dosa, namun dosa itu
tidak mengotori ketinggian kedudukan mereka, ” (Sanhedrin, 58b)
– “Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh
siapa pun dan oleh apa pun di muka bumi ini. Segalanya harus tunduk dan
menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang yang berwujud
manusia, yakni Ghoyim, ” (Chagigah 15b)
– “Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghoyim (Non-Yahudi), ” (Zhohar 25b)
(TamatRizki Ridyasmara)

Sumber : Musafir Malam

2 Tanggapan to “Ideologi dan Doktrin Zionis”

  1. ganyong Says:

    Ayat 1
    Diwajibkan bagi kita untuk membunuh orang-orang yahudi

    Ayat 2
    Haram hukumnya berbuat baik pada bangsa yahudi

    Ayat 3
    Bangsa yahudi adalah NAJIS di muka bumi ini

    Ayat 4
    Musnahkan bangsa yahudi dari muka bumi

    to be continue……

  2. ganyong Says:

    Tak ada baiknya bangsa yahudi ada di muka bumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: