Warga Teluklimau Makan ’Suami‘

KECAMATAN Jebus sebagai kecamatan yang memiliki wilayah yang paling luas di Kabupaten Bangka Barat sudah sejak lama telah didiami berbagai suku yang hidup berdampingan dengan rukun selama puluhan tahun.

Di kecamatan yang memiliki 17 desa ini selain suku Melayu Bangka, warga keturunan Tionghoa, Melayu Sumatera, dan Jawa juga terdapat warga keturunan suku Buton yang mendiami Desa Teluklimau.

Keberagaman suku yang mendiami wilayah Kecamatan Jebus melalui proses panjang selama puluhan bahkan ratusan tahun telah memiliki warna tersendiri dalam kehidupan masyarakatnya baik dalam adat istiadat maupun makanan khas.

Seperti warga keturunan suku Buton di Desa Teluklimau, kendati sudah selama puluhan tahun terpisah dari tanah leluhurnya dan sebagian sudah melakukan perkawinan campuran dengan suku Melayu Bangka, hingga kini masih mempertahankan makanan tradisional leluhurnya yaitu ’suami‘.

Saat berkunjung ke Desa Teluklimau, Minggu (22/1), makanan yang terbuat dari ubi ini sengaja disuguhkan tokoh pemuda setempat Rahman sebagai teman santap siang pengganti nasi bersama ikan Pari dan ikan Kerisi panggang lengkap dengan jeruk kunci, cabe plus sambal.

Sajian yang tidak biasanya ini cukup membangkitkan selera makan dan memulihkan tenaga usai menempuh medan offroad belasan kilometer jalan yang mengalami kerusakan yang sangat parah dari Parittiga hingga Desa Teluklimau.

Pegal-pegal dibadan usai melalui jalan yang penuh lobang dan kubangan-kubangan yang mengangga sepanjang perjalanan juga perlahan hilang melihat keindahan pantai berbentuk kuali besar dihiasi batu-batu cantik yang tersusun rapi dan pemandangan khas Teluk Kelabat.

Tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Desa Teluklimau, Samsuri mengungkapkan di Desa Teluklimau masyarakat selain menjadikan beras sebagai makan pokok sehari-harinya masih mengkonsumsi ’suami‘ yaitu sejenis makanan yang dibuat dari ubi yang diparut lalu dikukus menggunakan cetakan dari daun kelapa.

“Suami disini selain dibuat untuk konsumsi sendiri juga dijual kepada warga setempat dengan harga Rp 2.000 per buah,” ujar Samsuri.

Dilanjutkannya di Desa Teluklimau masyarakat mengenal tiga macam ’suami‘ yaitu suami hitam yang terbuat dari ubi yang dijemur selama satu minggu lalu baru dikukus, suami biasa yang dibuat dari ubi yang diparut lalu dikukus dan suami pepeh yaitu suami yang dibuat dari ubi yang diparut lalu dipipihkan menggunakan suatu alat dicampur minyak.

Sebagai makanan khas menurut keterangan Samsuri ketika Kecamatan Jebus masih bergabung dalam kabupaten Bangka, suami ini sering ditampilkan dalam kegiatan pameran tingkat kabupaten bersama sejenis kue yang juga merupakan makanan khas warga setempat.

Rahman dan La Ara warga keturunan suku Buton ini mengungkapkan suami selain menjadi makanan sehari-hari juga sering digunakan warga sebagai bekal jika melaut dan bekerja di TI apung.

“Jika tidak kena air suami bahkan bisa tahan sampai sebulan, tapi sudah keras,” ujar La Ara.

Satu Tanggapan to “Warga Teluklimau Makan ’Suami‘”

  1. Menarik sekali artikelnya.
    Selama ini kota Jebus disebutkan mempunyai duren yang terenak seindonesia, sayang sekali kawan saya juga tidak tahu nama jenis duren dan dari kebun siapa, hanya tahu disediakan oleh mobil kanvas sebuah perusahaan rokok dari kudus dan bila si Boss ini mau datang selalu ada disediakan duren kesayangannya bila sedang musim.
    Ingin sekali mengunjungi kota2 dan mengenal adat istiadat, kebiasaan dan makanan setempat penduduknya.
    Sayang di bangka belum populer menyediakan homestay didaerah perkampungan, jangan seperti hotel2 yang menyajikan steak melulu.
    kalau di pulau Jawa suami diberi makan, berbeda dengan di Jebus, suami malah dimakan.
    uuweew kereen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: