Archive for the Budaya Category

Keunikan Khas Bahasa Daerah Bangka

Posted in Budaya on 23/08/2008 by AMCA

Bahasa Bangka itu bahasa daerah yang paling efisien sedunia. Mengapa? Tidak percaya?

Ini karena bahasa Bangka tidak pernah mau menyerap Awalan dan Akhiran apapun.

Semua kata kerja dalam bahasa Indonesia yang memakai awalan me- langsung dibuang awalannya. Apabila kata kerja itu mulai dengan huruf hidup maka langsung diberi awalan ng.
Misalnya, kata mengambil menjadi ngambi’ ; mengintai menjadi ngintai;  mengolok jadi ngolok.  Bila kata kerja itu mulai dengan huruf mati, maka huruf mati itu juga langsung diubah dengan ng atau n. Misalnya: mengupas jadi ngupas;  mencuci jadi nyuci;  menampar jadi nampar; menelikung jadi nelikung; melemparkan jadi ngelempar; menghendaki cukup dengan menjadi nek. Kata dengan akhiran kan misalnya, asalkan menjadi asa’.
Baca lebih lanjut

Penelitian Suku Lom Oleh Olaf H.Smedal, University of Oslo

Posted in Budaya on 18/08/2008 by AMCA

Order and Difference
An Ethnographic Study of Orang Lom of Bangka, West Indonesia

Olaf H. Smedal

Originally published in the series Oslo Occasional Papers in Social Anthropology, as Occasional Paper No.19
Department of Social Anthropology, University of Oslo, 1989 [ISSN 0333-2675]

Baca Selengkapnya

Kebudayaan dan Adat Istiadat Bangka

Posted in Budaya on 03/01/2008 by AMCA

Selain pantai, Bangka juga dikenal dengan keragaman budayanya. Dari budaya lokal hingga budaya “Import” yang dibawa para pendatang. Keragaman budaya inilah yang belakangan menjadi aset penting untuk mengembangkan pariwisata.

Pulau Bangka yang dikelilingi lautan, laksana surga-surga bagi para nelayan. Itulah secuil cermin tentang kebudayaan nelayan di pulau yang dulu dikenal sebagai penghasil timah.

Dalam perkembangannya, latar belakang masyarakat Bangka yang sebagian besar nelayan itu, ternyata turut mempengaruhi pertumbuhan kebudayaan lokal. Meski saat ini pola hidup masyarakat Bangka telah mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Paling tidak saat ini ada dua event budaya besar yang berhubungan dengan nelayan, yakni, upacara rebo kasan dan buang jong.

Selain itu ada ritual-ritual budaya yang dipengaruhi unsur religi, sementara pertunjukan kesenian Barongsai mewakili kebudayaan masyarakat pendatang (Tionghoa)

Tapi diantara banyak ritual budaya di Bangka, upacara sepintu sedulang boleh jadi memiliki makna yang khusus. Inilah ritual yang menggambarkan persatuan masyarakat Bangka.

Sepintu Sedulang

Kata sepintu sedulang adalah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu tau siapa saja di balai adat.

Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.

Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar.

Selain itu juga ada berbagai macam kebudayaan dan adat istiadat bangka antara lain :

Sumber : Pariwisata Bangka Belitung

 

Suku Lom, Kemurnian di Tengah Hutan Bangka

Posted in Budaya on 21/09/2007 by AMCA

“HATI-hati masuk ke daerah suku Lom. Niat hati harus bersih dan tulus. Kalau hati kotor, nanti bisa kena celaka, bisa-bisa malah tidak bisa keluar lagi.” Demikian pesan banyak orang kepada siapa pun yang akan mengunjungi suku Lom.

SUKU Lom merupakan suku unik yang tinggal di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Mereka juga sering disebut sebagai suku Mapur karena mula-mula sebagian besar tinggal di Dusun Mapur. Suku tersebut dikenal sebagai salah satu komunitas yang masih kuat memegang kemurnian tradisi di tengah perubahan zaman.

Sebenarnya kawasan adat suku Lom hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari kota Kecamatan Belinyu. Motor dan mobil masih bisa masuk ke daerah itu saat tidak turun hujan, meski harus menelusuri jalan menuju tanah di tengah hutan Gunung Muda dan Gunung Pelawan yang rusak dan berlubang-lubang.

Kemurnian tradisi suku Lom selama ini dibumbui berbagai mitos, misteri, atau legenda yang menakutkan sehingga sebagian masyarakat enggan menyinggahi kawasan itu.

Memasuki perkampungan suku Lom di Dusun Air Abik, tak ubahnya melihat perkampungan warga biasa di daerah lain. Rumah-rumah kampung berjajar rapi di kiri-kanan jalan. Sebagian bangunan rumah sudah permanen, semipermanen, dan sebagian lagi masih berupa rumah kayu sederhana dengan atap genting. Bahkan beberapa rumah dilengkapi parabola. Ada juga beberapa mobil dan sepeda motor.

Keunikan suku itu mulai terasa ketika mereka ditanya tentang agama. Kolom agama kartu tanda penduduk (KTP) pada sebagian suku itu dibiarkan kosong, sebagian ditulis ’agama Islam’ sekadar untuk formalitas.

“Saya tidak punya agama. Tetapi, saya menghargai orang lain yang beragama. Yang penting saya hidup baik-baik, bisa makan dan minum setiap hari, serta tidak menyakiti orang lain,” ucap Sli (42), warga suku Lom yang tinggal sendirian di daerah agak pedalaman.

Sebutan lom pada suku tersebut merujuk komunitas yang “belum” memeluk suatu agama. Menurut sejumlah warga, sebutan itu mulai muncul sejak zaman kolonial Belanda yang berusaha mengidentifikasi penduduk berdasarkan agama yang dianut. Hingga sekarang, anggota suku yang masih memeluk adat disebut “Lom”, sedangkan yang telah memeluk agama formal tertentu berarti telah menjadi “bukan Lom”.

Kepala Dusun Air Abik, Tagtui, menjelaskan, dari 139 keluarga yang tercatat, sebanyak 62 orang tertulis beragama Islam, 13 Kristen, dan dua orang Buddha. Sebanyak 62 orang lagi memeluk kepercayaan adat atau masih murni “Lom”. Namun, sebagian besar warga yang secara formal telah memeluk agama juga masih memercayai adat yang dipatuhi sejak nenek moyang.

“Sejak kecil saya tidak punya agama. Saya masuk Islam ketika menikah dengan istri yang Muslim tahun 1997. Tetapi, saya masih memercayai hukum-hukum adat sampai sekarang,” papar Tagtui.

Menurut penuturan tetua adat setempat, Mang Sikat (62), adat suku Lom dibangun dari keyakinan bahwa mereka dilahirkan dari alam semesta. Gunung, hutan, sungai, bumi, langit, dan hewan merupakan bagian dari alam semesta yang menyatu dengan nenek moyang sehingga harus dihargai. Dalam setiap perwujudan alam terdapat roh atau kekuatan yang selalu menjaga dan mengawasi manusia. Kutukan akan menimpa siapa pun yang melanggar kekuatan alam.

Keyakinan akan kutukan itu diperkuat oleh mantra-mantra yang digunakan untuk setiap tindakan yang dimuati tujuan khusus. Ada mantra untuk jirat, yaitu semacam doa untuk menjaga ladang dari pencurian. Ada mantra untuk menghipnotis orang agar mengakui kejahatan yang dilakukan. Juga ada semacam gendam untuk menarik minat lawan jenis sehingga jatuh cinta atau untuk menjaga kelanggengan pernikahan.

Berbagai mantra itu terutama dikuasai para dukun adat demi menjaga keamanan dari serangan luar, melestarikan tatanan sosial, sekaligus menempa kepercayaan diri setiap anggota suku. Meski digunakan dengan hati-hati untuk keperluan khusus, keampuhan mantra suku Lom acap jadi gunjingan khalayak luas sehingga masyarakat cenderung berhati-hati terhadap kekuatan magis suku itu.

KEYAKINAN itu melahirkan adat unik yang sebagian masih ditaati suku Lom hingga kini. Mayat anggota suku yang meninggal, misalnya, tidak boleh diantar ke kubur melalui pintu depan karena dia pergi untuk selamanya dan tidak kembali lagi. Mayat dibawa lewat pintu belakang, atau bila perlu menjebol dinding samping.

Adat lain, wanita hamil dilarang duduk di tangga rumah karena tangga menjadi perlintasan roh-roh. Roh-roh itu bisa masuk dalam kandungan sehingga menghambat proses kelahiran. Bersiul di ladang juga dihindari karena akan mengusir roh kehidupan yang memasuki tanaman yang baru tumbuh, akibatnya bisa gagal panen.

Keterasingan menciptakan bahasa Lom yang unik. Kata- kata diucapkan dalam percakapan yang cepat dan penuh intonasi. Suku Lom menyebut ika untuk mereka, nampik untuk dekat, nen berarti ini, bu untuk nasi, dan maken air berarti minum. Bahasa itu berbeda dengan bahasa Melayu atau China yang terdapat di lingkungan di sekitar suku Lom.

HINGGA saat ini, suku Lom masih berusaha menjaga keyakinan adat. Para orang tua umumnya membebaskan anak untuk bersekolah, tetapi anak- anak biasanya tidak pernah menamatkan sekolah dasar. SD Negeri 24 di Dusun Air Abik yang berada di pinggir dusun hanya diikuti 48 siswa. Itu pun sebagian berasal dari lingkungan di luar suku.

Menurut Kepala Sekolah SDN 24 Dusun Air Abik, M Bundiar, jumlah anak yang masuk sekolah bisa mencapai puluhan siswa. Tetapi, anak-anak suku Lom rata-rata berhenti sekolah saat menginjak kelas II, III, atau IV.

“Kesadaran terhadap pendidikan pada suku Lom masih sangat rendah. Banyak yang tidak sekolah. Kalau sudah masuk, ada saja anak yang putus sekolah setiap bulannya. Kadang ada yang minta izin bekerja membantu orangtua di hutan dan tidak pernah masuk lagi, atau tiba-tiba hilang begitu saja,” tuturnya.

Beberapa warga suku Lom menganggap pendidikan hanya akan mengajarkan tabiat dunia luar yang dipenuhi kebohongan dan nafsu mengejar materi. Yudi (32), salah satu warga, mengaku tidak pernah sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. “Saya selalu ke ladang untuk memelihara 100 batang lada putih, buah-buahan, dan tanaman lain. Saya hanya butuh hidup dengan bahagia bersama warga di sini,” ujarnya.

Suku Lom cenderung menghindari budaya asing yang bertentangan dengan tradisi. Puluhan tahun lalu adat masih melarang anggota suku untuk menggunakan sandal, jas, jaket, atau payung karena dianggap menyamai gaya dan perilaku para penjajah. Sekarang ikatan itu mulai mengendur seiring dengan perkembangan zaman, tetapi sikap kritis terhadap dunia luar masih tetap dipelihara.

Dalam sejarahnya, belum pernah ada anggota suku yang tersangkut atau dipenjara karena melakukan tindakan kriminal. Suku Lom yang asli sering diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir; masih murni dan polos

Warga Teluklimau Makan ’Suami‘

Posted in Budaya on 18/09/2007 by AMCA

KECAMATAN Jebus sebagai kecamatan yang memiliki wilayah yang paling luas di Kabupaten Bangka Barat sudah sejak lama telah didiami berbagai suku yang hidup berdampingan dengan rukun selama puluhan tahun.

Di kecamatan yang memiliki 17 desa ini selain suku Melayu Bangka, warga keturunan Tionghoa, Melayu Sumatera, dan Jawa juga terdapat warga keturunan suku Buton yang mendiami Desa Teluklimau.

Keberagaman suku yang mendiami wilayah Kecamatan Jebus melalui proses panjang selama puluhan bahkan ratusan tahun telah memiliki warna tersendiri dalam kehidupan masyarakatnya baik dalam adat istiadat maupun makanan khas.

Seperti warga keturunan suku Buton di Desa Teluklimau, kendati sudah selama puluhan tahun terpisah dari tanah leluhurnya dan sebagian sudah melakukan perkawinan campuran dengan suku Melayu Bangka, hingga kini masih mempertahankan makanan tradisional leluhurnya yaitu ’suami‘.

Saat berkunjung ke Desa Teluklimau, Minggu (22/1), makanan yang terbuat dari ubi ini sengaja disuguhkan tokoh pemuda setempat Rahman sebagai teman santap siang pengganti nasi bersama ikan Pari dan ikan Kerisi panggang lengkap dengan jeruk kunci, cabe plus sambal.

Sajian yang tidak biasanya ini cukup membangkitkan selera makan dan memulihkan tenaga usai menempuh medan offroad belasan kilometer jalan yang mengalami kerusakan yang sangat parah dari Parittiga hingga Desa Teluklimau.

Pegal-pegal dibadan usai melalui jalan yang penuh lobang dan kubangan-kubangan yang mengangga sepanjang perjalanan juga perlahan hilang melihat keindahan pantai berbentuk kuali besar dihiasi batu-batu cantik yang tersusun rapi dan pemandangan khas Teluk Kelabat.

Tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Desa Teluklimau, Samsuri mengungkapkan di Desa Teluklimau masyarakat selain menjadikan beras sebagai makan pokok sehari-harinya masih mengkonsumsi ’suami‘ yaitu sejenis makanan yang dibuat dari ubi yang diparut lalu dikukus menggunakan cetakan dari daun kelapa.

“Suami disini selain dibuat untuk konsumsi sendiri juga dijual kepada warga setempat dengan harga Rp 2.000 per buah,” ujar Samsuri.

Dilanjutkannya di Desa Teluklimau masyarakat mengenal tiga macam ’suami‘ yaitu suami hitam yang terbuat dari ubi yang dijemur selama satu minggu lalu baru dikukus, suami biasa yang dibuat dari ubi yang diparut lalu dikukus dan suami pepeh yaitu suami yang dibuat dari ubi yang diparut lalu dipipihkan menggunakan suatu alat dicampur minyak.

Sebagai makanan khas menurut keterangan Samsuri ketika Kecamatan Jebus masih bergabung dalam kabupaten Bangka, suami ini sering ditampilkan dalam kegiatan pameran tingkat kabupaten bersama sejenis kue yang juga merupakan makanan khas warga setempat.

Rahman dan La Ara warga keturunan suku Buton ini mengungkapkan suami selain menjadi makanan sehari-hari juga sering digunakan warga sebagai bekal jika melaut dan bekerja di TI apung.

“Jika tidak kena air suami bahkan bisa tahan sampai sebulan, tapi sudah keras,” ujar La Ara.

Kota Kapur Diteliti Kembali

Posted in Budaya on 18/09/2007 by AMCA

Situs sejarah yang ada di Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, dalam waktu dekat akan diteliti kembali. Penelitian kembali ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penemuan benda baru yang ada di sana.

“Penelitian awal telah dilakukan pada tahun 1996 dan ditemukan sejumlah peninggalan sejarah seperti arca wisnu, benteng tanah, dan potongan lingga. Dimungkinkan juga benda-benda bersejarah lainnya masih ada di sana, sehingga perlu dilakukan kembali penelitian,” kata Kabag Tata Usaha Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Bangka Asep Setiawan yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (17/9) siang seraya menambahkan, penelitian ini dilakukan bersama Balai Arkeologi Palembang dan Jambi yang berkedudukan di Palembang. Dengan adanya penelitian kembali tersebut, lanjut Asep, tentu ke depannya situs cagar wisata itu menjadi objek wisata yang dapat dikunjungi baik wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan nusantara (Wisnus) seperti daerah objek lainnya. “Di areal Kota Kapur itu nantinya akan dibangun sejenis pendopo untuk penyimpanan barang-barang sejarah yang saat ini sebagian berada di Palembang,” jelasnya.

Menurun

Sementara itu, Kabid Objek dan Sarana Wisata Netty menambahkan, untuk meningkatkan jumlah wisman dan wisnu pihaknya masih menitikberatkan pada objek wisata pantai. “Sampai saat ini kita terus berbenah untuk peningkatan wisman dan wisnu di Kabupaten Bangka,” jelasnya.

Dia menambahkan sampai saat ini jumlah Wisman dan Wisnu di Bangka jika dilihat dari data sangat jauh menurun. Untuk itu pihaknya akan melakukan pembenahan obyek wisata yang ada di Bangka.

“Tahun lalu jumlah Wisman dan Wisnu itu mencapai 3.466 orang, untuk itu tahun ini kita masih menitikberatkan pada objek wisata pantai,” paparnya. Menurutnya, turunnya wisman dan wisnu dikarenakan kurang optimalnya koordinasi antara pengelola obyek wisata dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka.

Saat ini, pengelola hotel wisata jarang melaporkan jumlah wisatan yang tinggal di hotel, wisma maupun penginapan. “Kalau untuk pengunjung pantai dapat kita lihat melalui tiket karcis yang baru masuk, namun untuk melihat di hotel, wisma dan penginapan sangat sulit karena pengelola jarang melapor,” katanya seraya menambahkan tahun ini pihaknya akan melakukan koordinasi, kalau perlu pihaknya yang akan menjemput bola.

Sumber : Koran Bangka pos, edisi Senin, 17 sept 2007 

Dari Tiongkok ke Pulau Bangka Bedol Desa ala Kuli Tionghoa

Posted in Budaya on 19/08/2007 by AMCA

BUDAYA bedol desa juga dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa. Setidaknya, masyarakat Tionghoa di Pulau Bangka adalah bukti dari praktik bedol desa yang menurut catatan Belanda berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi.

MASYARAKAT Tionghoa dari suku Ke Jia (sering disebut Orang Khe) dari Provinsi Guang Dong, Tiongkok, adalah komunitas Tionghoa terbesar di Bangka-Belitung yang melakukan migrasi sistem bedol desa berabad silam dari daratan Tiongkok. Mereka berangkat dari kampung-kampung di distrik tertentu seperti Sin Neng, San Wui, Hoi P’eng, Yan P’eng, Nam Hoi, P’un Yue, Shun Tak, Tung Kwun, dan Heung Shan (lafal ini tidak menggunakan standar Han Yu Pin Yin-Red).

Bagian terbesar dari migran tersebut adalah kuli tambang timah. Seiring perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di bawah Kesultanan Palembang ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah orang Tionghoa suku Kejia yang memang terkenal memiliki keahlian di bidang pertambangan.

Sultan Palembang meniru pengalaman Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja tambang Tionghoa untuk mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi kepercayaan adalah Lim Tau Kian, seorang Tionghoa Muslim asal Guang Zhou (Canton-Red), seorang sahabat Sultan Johor.

Lim Tau Kian yang memiliki nama Melayu Ce Wan Abdulhayat bermukim di Kota Mentok. Dia memiliki anak cucu yang memakai gelar dari Kesultanan Johor, yakni Abang untuk lelaki dan Yang untuk perempuan (Sumber: Bangka Tin and Mentok Pepper karya Mary F Somers Heidhues).

Bahkan, menurut Buyung Benjamin seorang sesepuh Tionghoa Bangka, warga Tionghoa sudah ada di pulau tersebut sebelum kedatangan Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho dalam dialek Fujian-Red) tahun 1405 Masehi. “Saya sendiri sudah keturunan ke sepuluh di Pulau Bangka. Hingga kini kami masih mendengar cerita tentang keahlian leluhur kami dalam menambang timah,” kata Buyung.

Menurut Buyung, masyarakat Tionghoa-lah yang memperkenalkan teknik bertambang yang hingga kini masih dikenal. Kosa kata “Ciam” (Jian dalam Mandarin-Red) atau pengebor, “Sakan” alias pengayak pasir timah, hingga “Kolong” yakni lubang tambang besar dari Dialek Ke Jia adalah sebagian kecil dari bukti peninggalan tradisi Tionghoa yang masih bertahan hingga kini.

Sebelum Belanda bercokol di Bangka-Belitung, kongsi-kongsi China terlebih dulu mengupayakan penambangan timah dengan izin dari Sultan Palembang. Arus pertama-tama migrasi “bedol desa” tersebut tidak disertai kaum wanita sehingga terjadilah perkawinan campur antara buruh migran dengan wanita setempat atau pun perempuan Bali dan Jawa.

Sebagian besar kuli timah tersebut berasal dari satu kampung halaman. Tak ubahnya pekerja marjinal di Jakarta dewasa ini, saat mereka pulang kampung dan kembali ke Bangka, mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya berbondong-bondong datang. Itu berlangsung terus hingga abad ke-20.

SEIZIN penguasa Kesultanan Palembang dan Kerajaan-kerajaan Melayu seperti Lingga dan Johor yang silih berganti menanamkan pengaruh di Bangka-Belitung, masyarakat Tionghoa pun membangun permukiman di sana. Permukiman mula-mula berada di sekitar Panji dekat Teluk Klabat. Selanjutnya, seiring penemuan tambang baru, permukiman berkembang di Toboali, Koba, Sungai Liat, Jebus, Merawang, Baturusa, dan Koba di selatan Pulau Bangka.

Terciptalah pola permukiman yang unik, masyarakat Bangka-Melayu tinggal di dekat sungai karena mereka berkebun. Sedangkan perkampungan Tionghoa selalu berada di sekitar lubang tambang timah sesuai jalur timah (tin trap-Red) di sepanjang Pulau Bangka dan Belitung. Pola permukiman tersebut tetap bertahan hingga hari ini atau lebih dari tiga abad!

“Perkampungan Tionghoa selalu berada di sekitar jebakan timah atau bekas tambang. Sedangkan perkampungan Melayu di sekitar sungai tempat mereka berkebun dan mencari nafkah dari berladang,” kata Buyung Benjamin.

Sedangkan Ketua Badan Warisan Bangka (Bangka Heritage Society-Red) Hongky Lay Listiyadhi menjelaskan, Para petinggi Tionghoa yang semula di sebut Tiko (Da Ge dalam bahasa Mandarin-Red) yang artinya “Kakak” menjadi pemimpin komunitas mereka. Selanjutnya pada zaman kolonial Belanda, para ketua Tionghoa tersebut diberi pangkat titular sebagai Letnan dan Kapten China (Lieutenant dan Kapitein de Chinezen-Red).

Mary F Somers Heidhues mencatat, migrasi kuli Tionghoa sempat terhenti pada akhir abad ke-18 akibat gangguan bajak laut dan gangguan penyakit beri-beri. Demikian pula pada suatu masa di abad ke-19 gangguan wabah penyakit sempat menghambat laju migrasi dari Tiongkok ke Bangka.

Umumnya para kuli timah tersebut datang akibat informasi getok tular dari teman sekampung yang sudah terlebih dahulu merantau ke Bangka. Tetapi, untuk berangkat, biasanya mereka harus melalui agen tenaga kerja seperti PJTKI di Indonesia. Agen tersebut ada yang berpusat di Singapura, Tiongkok ataupun Bangka.

Perlahan tapi pasti, jumlah migran tersebut terus bertambah hingga akhirnya kaum wanita turut pula berdatangan ke Bangka. Mereka pun beranak-pinak di Bangka-Belitung dalam kondisi serba memprihatinkan.

Nyaris serupa dengan nasib TKI yang disiksa di negeri jiran, demikian pula para kuli tambang Timah Tionghoa. Mereka kerap diperlakukan tidak manusiawi, dijebak dengan utang dari mandor, disediakan fasilitas judi dan permadatan sehingga semakin terjebak lilitan utang serta pelbagai kekerasan lain.

Alhasil, aksi perlawanan dan terkadang berujung pada pemberontakan sering terjadi. Salah satu tokoh Melayu Depati Amir yang menentang Belanda, menurut Buyung juga dibantu oleh para tokoh-tokoh Tionghoa setempat. Demikian pula pada akhir abad ke-19, terjadi pemberontakan Liu Ngie melawan kekuasaan Belanda yang dimotori Tionghoa Bangka.

Bahkan, pada masa kemerdekaan pun, seorang tokoh Tionghoa yakni Tony Wen menembus blokade Belanda untuk menyelundupkan opium ke Singapura dan dari sana menyelundupkan senjata untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Dia sempat memimpin sejumlah laskar relawan internasional untuk melawan Belanda dalam perang kemerdekaan di Jawa.

Kini nama Tony Wen diabadikan sebagai nama jalan di Kota Pangkal Pinang. Penghargaan tersebut diberikan menyusul dinamakannya Bandara Pangkal Pinang dengan nama Depati Amir.

WAKTU berlalu, Bangka pun menjadi museum Budaya Tionghoa khususnya suku Hakka. Ribuan klenteng besar dan kecil, rumah antik berusia ratusan tahun, dan pola hidup tradisional merupakan warisan budaya yang unik dan tiada duanya.

Hongky sebagai buyut dari Kapitein Tionghoa Lay Nam Chen menghuni rumah berusia 150 tahun lebih di pusat Kota Pangkal Pinang. Bangunan kayu antik peninggalan para leluhur migran dari Tiongkok masih dapat dinikmati di sana-sini. Rumah induk, halaman tengah dan bagian belakang yang luas merupakan pakem dari bangunan masa itu.

Salah satu tempat yang masih utuh menggambarkan kehidupan seabad silam adalah Kampung Gedong sekitar 90 kilometer sebelah utara Kota Pangkal Pinang atau hanya sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat. Perkampungan tersebut adalah komunitas Tionghoa keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai kawasan Parit 6 atau Liuk Phun Thew dalam dialek Hakka.

Deretan rumah kayu antik, ornamen Tionghoa, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka. Pemandangan tersebut mengingatkan kita pada film-film tahun 1940-an. Seperti bagian kota tua di Penang, Malaka, dan China Town, Singapura, demikianlah suasana Kampung Gedong.

Suasana di permukiman yang hanya dihuni sekitar 50 keluarga itu sangat sepi dan tenang. A Kiong, warga setempat mengatakan, warga di situ selalu berkumpul di sore hari.

“Setiap hari besar seperti Imlek, Peh Cun, Qing Ming pasti digunakan untuk berkumpul warga,” kata A Kiong yang sehari-hari membuat kerupuk ikan.

Dalam sejumlah perayaan, sering kali diarak lakon Sun Go Kong (Sun Wu Gong-Red) yang menjadi Dewa Pelindung Kampung Gedong. Menurut Hongky, sejak tahun 2000, Kampung Gedong ditetapkan sebagai desa wisata.

Namun, perlahan tapi pasti, generasi muda Kampung Gedong yang berpendidikan baik mulai meninggalkan kampung halaman mereka. Yang unik adalah, kaum muda yang tersisa kembali bekerja di tambang timah tradisional (kerap disebut Tambang Inkonvensional atau TI-Red) mengikut jejak langkah nenek moyang mereka dengan teknik yang kurang lebih sama. Sedangkan berkebun lada sudah tidak lagi dilakukan karena harga telanjur hancur.

Tampaknya sejarah Tionghoa dan timah di Bangka sedang terulang kembali. Tentu saja kali ini tidak diikuti kedatangan kuli timah dari Tiongkok.

Sumber : Kompas.com 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.