Kota Tua di Antara Menara Walet

Pulau Bangka memang merupakan sebuah pulau kecil yang “sarat” akan situs bersejarah. Mulai dari tinggalan masa pengaruh budaya India dengan situs Kota Kapur (di Kabupaten Bangka ) dari abad ke-6 Masehi, sampai dengan masa pendudukan Belanda dengan dibuangnya Soekarno-Hatta beserta sejumlah pemimpin bangsa di Muntok pada 1949.

Penambangan timah

Ingat Pulau Bangka dan Belitung, maka ingat pula akan timahnya. Demikian juga di dasar laut terdapat kandungan timah. “Ada gula, ada semut”, itulah peribahasa yang berlaku umum.
Di Bangka dan di kota-kota lain di Semenanjung Tanah Melayu, sebut saja Taiping—yang berarti “kota kedamaian luhur” —maka peribahasa yang kemudian berlaku adalah “Ada timah, ada Tionghoa”. Mengambil contoh dari Taiping, penambangan timah secara besar-besaran di Bangka mula pertamanya dilakukan oleh para penambang bangsa Tionghoa di samping penduduk asli Bangka sendiri.
Taiping lahir pada pertengahan abad ke-18 setelah perang antara perserikatan pekerja tambang dari Distrik Larut, negara bagian Perak (Malaysia). Larut untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh seorang putra asal Aceh yang bernama Long Ja’afar. Ia membawa kelompok penambang Tionghoa dari Penang untuk dipekerjakan di tambang timahnya di Kelian Pauh.
Para penambang ini berasal dari Tionghoa-Hakka, anggota dari puak Hai San, sebuah perserikatan gelap di Penang yang dipimpin oleh Chung Keng Kooi. Sementara itu, di Kelian Bahru menetap puak Fui Chiu yang jumlahnya lebih kecil. Kedua puak ini secara turun-temurun selalu bertikai. Setelah mereka berperang dan masuknya campur tangan Inggris, pada tahun 1874 diresmikanlah nama Taiping sebagai sebuah kota, tempat yang dibangun para penambang tersebut.
Entah sejak kapan timah ditemukan di Bangka dan bagaimana cara menemukannya. Hingga saat ini belum ada secarik pun data tertulis yang sampai kepada kita kapan ditemukannya timah di Bangka.
Penambangan timah di Bangka dan Belitung mungkin sudah lama dikenal. Berita Tionghoa dari abad ke-7 Masehi menginformasikan bahwa komoditas perdagangan dari Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) antara lain adalah timah. Pada abad-abad tersebut Bangka dan Belitung termasuk dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Namun, pada masa itu penambangan timah belum dilakukan secara besar-besaran karena belum merupakan barang komoditas penting.
Indikator pemakaian logam dasar yang bernama timah sudah lama diketahui dengan bukti berupa artefak logam seperti arca, cermin, dan mangkuk yang dibuat dari perunggu. Perunggu merupakan logam campuran (alloy) yang terdiri dari tembaga dan timah.
Kerajaan-kerajaan tua di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Malayu (abad ke-7 Masehi), banyak menggunakan perunggu sebagai bahan untuk membuat alat-alat keperluan upacara dan rumah tangga. Dengan demikian, sebelum orang mengenal perunggu tentunya sudah terlebih dahulu mengenal timah dan tembaga.
Kandungan timah terbesar di dunia terletak di jalur utara-selatan, mulai dari pegunungan di Myanmar bagian timur, Semenanjung Tanah Melayu, hingga ke Bangka dan Belitung. Banyaknya kandungan timah di Bangka dan Belitung baru diketahui tahun 1709, tetapi di bagian tengah Semenanjung Tanah Melayu sudah diketahui sejak abad ke-10 Masehi.
Sumber lain menyebutkan bahwa timah di Bangka ditemukan secara tidak sengaja. Kala itu pada tahun 1710, ketika sebuah rumah yang terbakar pada bagian lantai tanahnya terdapat lelehan yang berwarna putih keperakan.
Kemudian pada tahun 1754, setelah pengusiran orang Tionghoa tahun 1740, otoritas Tionghoa mengumumkan untuk pertama kali bahwa setiap orang Tionghoa dengan alasan yang sah berhak kembali ke Nusantara dan dilindungi hak-haknya. Aturan tersebut memicu eksodusnya saudagar, penambang, pengusaha perkebunan, dan petualang dari Tiongkok ke semua penjuru Asia. Di Vietnam bagian utara, Phuket, Kelantan, Kalimantan bagian barat, dan Bangka terbentuk koloni-koloni pertambangan Tionghoa.

Kota penambang

Bangka merupakan pusat industri timah paling awal dan hasilnya merupakan milik Kesultanan Palembang-Darussalam. Pada tahun 1722, VOC membeli timah untuk dikirim ke Eropa.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin (1774-1804), Bangka merupakan pemasok timah terbesar di Asia. Teknologi penambangan timah yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa menyebabkan produksi timah meningkat. Penjualan kepada VOC rata-rata 20.000 pikul per tahun (1 pikul=62,5 kg).
Sejalan dengan majunya teknologi penambangan dan meningkatnya permintaan pasar, meningkat pula produksi timah Bangka. Beberapa tempat yang dihuni oleh koloni penambang timah, misalnya Muntok, Sungai Liat, dan Toboali berubah menjadi kota kecil.
Entah sejak kapan Muntok dihuni orang. Mungkin dihuni dan dibangun tidak lama setelah ditemukan dan dieksploitasinya bijih timah. Tidak diketahui dengan pasti mengapa kota tua tersebut dinamakan Muntok.
Sebuah sumber di Eropa menyebutkan bahwa Muntok dinamai menurut nama Gubernur Jenderal Inggris yang berkedudukan di Tumasik (sekarang Singapura), yaitu Lord Minto. Letaknya di sebuah teluk di kaki tenggara Gunung Menumbing, menghadap ke Selat Bangka, berhadapan dengan muara Sungai Musi. Karena letaknya ini, pada abad ke-18/19 kota ini pernah mengalami kejayaan dan menjadi ibu kota Keresidenan Bangka hingga tahun 1913 sebelum dipindahkan ke Pangkal Pinang.
Bangunan-bangunan tua di Muntok yang dibangun pada abad ke-18/19, misalnya rumah-rumah tinggal para pegawai tambang timah bangsa Eropa, rumah tinggal seorang Mayor Tionghoa, bangunan kelenteng, dan Masjid Jami’.

Rumah Mayor Tionghoa yang bernama Tjong merupakan rumah mewah dengan tiang-tiang yang berukuran besar. Bangunan kelenteng yang menurut ceritanya sudah berusia lebih dari 200 tahun didirikan berdampingan dengan bangunan Masjid Jami’ Muntok yang juga merupakan bangunan tua.
Kekunoan bangunan masjid tampak pada bentuk atapnya yang mirip dengan bentuk atap Masjid Agung Palembang. Kedua bangunan ini memberikan petunjuk bahwa pada masa lampau ada dua kelompok masyarakat berbeda agama yang hidup berdampingan secara damai.
Sejak zaman Sriwijaya, Selat Bangka merupakan jalur lalu lintas air yang padat. “Kapal-kapal yang datang dari mana pun melalui selat Peng-chia (Selat Bangka)”, demikian uraian Ma-huan, seorang penulis yang ikut pelayaran Cheng-ho tahun 1420-an.
Lebar dan kedalaman selat ini tidak sama. Ada daerah-daerah yang membahayakan pelaut yang melaluinya. Kadang-kadang ada kapal yang kandas atau menabrak karang. Karena itulah pada tahun 1864 dibangun sebuah menara suar di Tanjung Kelian. Menara suar ini masih tegak berdiri dan masih berfungsi dengan baik.
Kota tua Muntok kini sudah tercemar oleh bangunan-bangunan menara yang menjulang tinggi di antara bangunan-bangunan tua. Bangunan menara yang dicat dengan warna-warna mencolok—kuning, oranye, dan krem—itu tampak lebih mendominasi warna kota. “Makhluk hidup yang hidup dengan layak di tengah-tengah kota adalah burung walet”.
Itulah yang terjadi. Bangunan menara yang indah tersebut adalah sarang burung walet. Keberadaannya hampir merata di seluruh penjuru kota. Ini tidak hanya berlaku di Muntok, sungailiat atau daerah lain saja. Di tempat-tempat lain di Nusantara hal semacam ini juga banyak ditemukan, misalnya di Banten, Cirebon, Lasem, Tuban, dan Gresik.
Dapatkah tujuan dari Lawatan Sejarah Nasional IV diimplementasikan kepada masyarakat, sementara itu sudah banyak situs bersejarah yang rusak, tidak terawat, atau sebagian isinya hilang seperti yang terjadi di Muntok? Hanya para petinggi itulah yang dapat menjawab dengan perangkat kebijakan dan ketegasannya.
Jadi, sebelum mengubah metode pengajaran sejarah dengan melakukan kunjungan ke situs bersejarah agar membangkitkan minat siswa, mungkin situsnya perlu dibenahi dulu.

Sumber : berbagai sumber

39 Tanggapan to “Kota Tua di Antara Menara Walet”

  1. sebagai kota patut dipertahankan jangan sampai punah keasliannya, bagaimana disana mobil2 tua masih ada? seperti vw dll

  2. wah… saye seneng bisa baca artikel neh, dimana ceritanya belum pernah saye dapet sejak 25 th besar di Muntok. dulu pelajaran sejarah dak de yang mengajarkan sejarah nenek moyang dan orang- orang penting yang jadi sejarah. nampaknye ade pengetahuan penting yang selame nie belum di ajarkan di bangku sekolah anak anak Muntok. Cemane generasi kite kelak, anak-anak kite nak tau sejarah tanah airnya sementara orang tua atau masyarakat sekitar pun dak tau sejarah tanah kelahiran.

  3. betul. kota tua harus dipertahankan. biar anak cucu tetap tahu sejarahnya. :)

  4. dear, aku kebetulan dapat situs ini… lumayan. bisa bantu aku nyari buku sejarah timah karya ir. sudjitno sutedjo yang pernah diterbiti pt. gramedia jakarta? kira-kira buku itu masih ada stoknya apa gak ya? aku perlu untuk referensi. thanks!

  5. Betul, jangan kan kita, malah orang tua kita sepertinya tidak akan peduli akan kebudayaan, adat istiadat Bangsa Melayu di Bangka ni, saya turut perihatin atas masuknya budaya luar ke Bangka yang membuat budak-budak Bangka tidak tahu menahu bahkan tidak mau tahu akan budayanya sendiri…..

    • indra Says:

      bener to cek….ku setuju 100 % …bangka adalah tanah melayu yang harus punya identitas…melayu adalah bangsa yang sopan santun,menjunjun tinggi adat istiadat…kite harus tahu sejarah bangka..dan mentok salah satu yang banyak menyimpan sejarah,..

  6. Muntok, Muntok……. kota tua yang indah cuma kurang penataan dan perawatan, semoga kota tua ini dapat mempertahan kan bangunan2 lamanya sehingga nanti menjadi kota yang penuh kenangan

  7. Muntok adalah tempat kelahiran ku
    Muntok adalah tempat di mana aku tumbuh
    Sangatlah sayang kalau tempat kelahiran kini sudah tidak terurus dan
    jika aku menjadi konglomerat akan ku bangun dan ku jaga kelestariannya
    Muntok aku rindu akan orang tuaku , teman2 ku ,dan saudara2 ku …….

  8. Rumah Mayor adalah kediaman keluarga Tjoeng, bukan Tjong. Demikian klarifikasi dari saya.

    • Gie Oei Says:

      Apa anda ada data mengenai Majoor Tjoeng A Tiam dan Tjoeng Fai Hioen?
      tolong kirim ,terima kasih.Gie.

      • Haryadi Wiradinata Says:

        Tjoeng Fai Hioen punya anak perempuan bernama Tjoeng Kim Po. Tjoeng Kim Po menikah dengan seorang laki-laki bernama Bong Kit Siong………………Pasangan itulah adalah KAKEK & NENEK saya……………….

  9. Muntok…….kota kecil yang penuh kenangan
    Indah untuk diingat……karena banyak kenangan indah yang pernah saya rasakan disana…..
    Kota yang sunyi…..yang dapat menyenangkan hati…..
    Semoga kota ini tetap ada dan selalu menjadi kota yang damai ……

  10. Saya Safri lahir di Muntok tahun 1948, Ayah saya Ishak Moesa dan Mak saya Hasnah Djalil. Kakak saya Farida dan adik-adik saya Tamrin, Erman, Mashuri, Mansur, Rosvita, Noviar dan Rosmala. Kami tinggal di Kampung Keranggan Ulu.

    Saya berpendapat Muntok mempunyai potensi untuk menjadi kota heritage asal pemda bangka barat dan penduduknya mempunyai niat dan kehendak.

    Kenagan saya tentang Muntok http://www.tebetbarat.com/artikel/safri-mentok-bangka.htm :)

    • betul se x, Muntok, bka.barat khususnya, klo dikelola dgn baik, trtma pemda/msyarakatnya punya DNA (Dream N Action) ada dlm diri setiap manusianya, bukan mustahil, Bka.Barat bisa lbh maju dari Kab yg lain, sy tdk ber-angan2, tp ini akan jadi kenyataan, sama juga dgn Kab2 yg lain, apbila “TANGGAP & PEDULI” semua org di Bka.Barat bisa diaplikasikan dengan Tanggap & Peduli, , sjrh Mly Bka, bermuara disitu, kata Pakar Otak Kanan, mengatakan, tahukan Anda…? DNA itu klo dibentangkan pjgnya 600X jarak antara bumi & matahari, dan tahukah pula anda, bhw kita2 ini manusia brasal dari ber-juta2 sel sperma, yg tadinya saling berebutan utk saling mendahului 1 sama lain, sehingga jadilah kita2 skrg ini, artinya dalam diri setiap manusia itu punya potensi/bakat utk jadi seorg pemenang. Alangkah indahnya Bka Barat klo DNA setiap warganya bisa diwujudkan, kejar/raih ketinggalan itu dgn semangat juang yg tinggi, Insya Allah Sang Pemberi akan membuka jln yg membentang dari upaya/jerih payah anda2 semua, Amien.

  11. mentok ( saye taunya mentok bukan muntok) adalah kota kelahiran…..tempat aku remaja…….penuh dengan kenangan indah….yang tak kan terlupa…….menggores dalam di hati….begitu cinta aku akan mentok….betapa rinduku padanya…….

    • Sayeee niyy nooonggg.... Says:

      awak di mentok ken cume sampai SMP ak rini…berarti masa remaja e dak di mentok lah…kwakwakwakwakwa

  12. Abang Faizal Says:

    sebagian artikel kurang lengkap. Nama Mentok sudah ada sebelum penjajah Eropha masuk ke Bangka. Nama Mentok aslinya adalah “entok” yang artinya “itulah”, dan nama ini di awali dari ucapan istri/selir Sultam Mahmud Badaruddin I yang bernama Zamnah binti Abduljabar bin Abdul Hayat (liem Tau Khian).
    Abdul Hayat adalah seorang bangsawan China yang diislamkan oleh Sultan Johor dan dengan menikahnya anak Abduljabar bin Abdul Hayat, maka Sultan Mahmud Badaruddin I menghadiahkan sebuah pulau yang diberinama lengkap Muntok dengan sebuah ‘tanjung’ yang ‘kelihatan, lalu dikenal dengan “Tanjung Kalian”.
    Keluarga Abduljabar dari Jiran Siantan Malaysia inilah yang memperkenalkan cara mengolah/meng-eksplorasi timah kepada masyarakat primitif bangka (suku sekak & Wak Kedale).
    File lengkap tentang ini ada di keluarga keturunan Abang & Yang yang bisa di kunjungi dengan alamat : Kp. Teluk Rubiah Mentok – Bangka Barat (0812-71134694). Data dapat dipertanggung jawabkan yang disertai bukti peninggalan sejarah dan silsilah keluarga yang berusia ratusan tahun.

    to : Abang Faizal

    TERIMA KASIH ATAS MASUKAN DAN INFORMASINYA

    • terimah kasih info na…
      klau bisa saya minta file na…tolong kirim ke email saya
      abidzar_ghifari@yahoo.com

    • Hamdan Says:

      Salam Pak Faisal dari Johor Malaysia.

      Hari ini saya google Lim Thaw Kian dan sampai k situs ini. Nama ini saya dapat dari salasilah bawaan Abang Winarwan, dosen di UNPAR Bandung. Beliau diberitahu mengenai saya dai Abang Efran, org Bangka yg pernah email saya 3-4 tahun dahulu, baru ketemu bulan ini di FaceBook.
      Kami dari jaluran Tok Keling > Tok Razak yang berhijrah ke Johor. Salasilah ini diberikan kpd saya dari ayah yg menulis ( dlm jawi) bahawa ianya adalah dibawa oleh Tok Razah dari Mentok.
      Tadi pagi baru saya bandingkan kedua- dua salsilah ini, didapati banyak persamaan, ejaan nama berlainan sedikit tp bunyi tetap sama.
      Tp dari salsilah kami bermula dari Lebai Abdul Rahman, cina muslim di Melaka. Kalao ikut salsilah dr Banka, anak abdul Hayat ini adalah Abdul Jabar.
      Wallahualam.
      Email saya: arhaj1@yahoo.co.uk
      salam
      Hamdan
      Tadi

    • ad lg ttg sjrh Bka, jauh sblmnya, pernah sy baca disebuah Buku Belanda “Jaar boek van het mijn wiezen” wkt itu org tua sy msh hidup,dibacakan bliau, dulu wkt masih PN TTB, alm ayah sy pernah pegang Bibliotik (perpustakaan tmh), ad pnjlasan dlm buku itu, bhw, klo mau mengetahui sjrah bka, dpt dilihat di Rijck Archif Belanda (Denhaag) klo skrg, scrip itu ditulis oleh Veerbek, oleh seseorg belanda yg tidak mau disebutkan namanya, apakah pernah kita menelusurinya…?? mengungkapkan sjrh hrs scara utuh, 1 sama lain ad kronologisnya, dmk infrmasi yg dpt sy sampaikan, smg bermanfaat, Tks

  13. binadiawan Says:

    tahun 2002 kami mudik ke muntok, alamnya indah lautnya jernih, waktu muket ikan banyak dapat, tahun 2008 kami mudik lagi, alamnya sudah hancur…………

  14. binadiawan Says:

    tahun 2002 kami mudik ke muntok, alamnya indah lautnya jernih, waktu muket ikan banyak dapat, tahun 2008 kami mudik lagi, alamnya sudah hancur…………

  15. terus berkarya….
    yo kite bangun bangka barat…
    kita kawal pembangunan na…
    cayo…..

  16. imung Says:

    Salam hangat dari makassar … saya belum menemukan web yg dikelola pemda bangka barat . Ini mungkin bisa diusulkan ke pak Bupati / Parhan ?
    Web yg bisa diakses semua orang bagi segala kepentingan , sejarah / riwayat , niaga , pariwisata dan tentunya tempat penggalangan dana bagi para perantau yg ingin membantu membangun ( kembali ? ) masa jaya bangka barat , khusus nya kota mentok yg sekarang lagi lesu darah.
    sebagai wadah utk bercengkerama dan bernostalgia.
    Salam
    ML

  17. Sayeee niyy nooonggg.... Says:

    Mentok….., kota kecil yang penuh dengan kenangan indah….tempat saye dilahirkan dan dibesarkan, sekolah sampai SMA, tp skrg SMA tu lah dak de agik (kabar e…).

    Harapan saye, pantai2 di bangka barat bise juga di jadiken tujuan wisata, selame ni…selame niyy kawan2 dr luar cume tau pantai Parai ketak, mudah2an kedepan e pantai tanjung ular atau pantai enjel (toles benar dak ok???) bise di jadiken tujuan wisata juga. Kalo pantai tanjong kalian kabar e lah jd tujuan wisata juga…tp wisata malam ok…benar dak ???? jangan2 bentar lagi DELTA or ALEXIS buka cabang pula di sane…(hihihi…jangan sampai lah ok).

    Kapan ok ade cottages yg berdiri di pantai2 di mentok…..saye selalu ngebayangken di pantai tanjong olar tu ade hotel sol elite marbela berdiri dengan gagah….terus orang2 mentok dapat jatah ontok nginep gratis di sane tiap taon…wadawww mantappp e….., pagi2 sebelum nginap tu kite kepasar dolok mbeli kue bludar, ruti berut, ruti goreng, ruti lemak, penganan pelite, lakse, pantiau dan empek2……ontok bekal di hotel, karena kite cume gratis nginap jak rupe e…makan mesti bayar…jd kite mesti bawa sangu…., kalo orang2 JKT or di luar mentok kalo jalan2 pasti sangu e POP MIE tp kalo orang kite sangu e Pantiau (same2 tinggal carek aek panas) tp pantiau lebih sehat dr POP MIE….

    huahahahhhh….ngantokkk polak mate niyy…kelak sambong agek lah noles e….be-du’e dolok ah sebelum tedok ontok kota mentok tercinta “mudah2an kota mentok kite tercinta tu bise juga lebih maju seperti kota2 lain di BABEL”. amien.

    sampai ketemu agek yeee….abang kek aak…..

  18. Lielie86 Says:

    Wah,keren nih..Boleh juga izin ngopas buat blog aku..Karena sebagai orang mentok,kita patut kembangkan kota kecil kita ini agar dikenal di manca negara..

  19. Gie Oei Says:

    Semangat anda saya puji, memang Mentok masih bisa dikelola, saya baru menengok bulan lalu, hanya 2 hari, waktu tidak mengijinkan, mungkin lain kali,saya pergi melihat rumah Majoor Tjoeng dan tempat peristirahatan mereka., sangat impresif.Salam,Gie.

  20. fery zen Says:

    TO : ABANG FAISAL

    Nama saya fery zen, membaca penjelasan anda mengenai mentok hingga ke leluhur liem tau khian . Sangat menarik. Kalau diperbolehkan , saya ingin mendapatkan file lengkap tersebut yg membahas masalah silsilah dari liem tau khian hingga keturunannya sekarang.. Karna saya adalah keturunan liem tau khian yg ke 13 . Saya tau itu karna saya punya selembar kertas silsilah keluarga hingga ke leluhur saya liem tau khian .. Adapun garis silsilah saya sbb:
    fery zen > chandra kesuma > abang muhamad yusuf zen > Ab Mohd Zen > abang m hamim > abang hasan > abang moh nur > a daud > abang hasan > datuk suma’I’ll > nachoda wahab > datuk djamil saudara E.W baniah istri sultan badarudin 1> E.W. Abd Djabar(datuk dalam) > Entji Wan Abdul Hajat (Liem Tau Khian)

    Jika berkenan mohon konfirmasi nya ke email saya atau kirim file tersebut ke:
    sup3r_zen@yahoo.co.id
    sup3rz3n@yahoo.co.I’d (facebook)

    Terima kasih atas perhatiannya

    • Hamdan Says:

      Assalamualikum, saya dari Johor Malaysia pernah ke Mentok tp tidak ada sesiapa yg saya kenal di sana.
      Saya juga ada salasilah yg berasal dari Mentok tp diatasnya Lebai Abdul Rahman, cina muslim di Melaka.
      Satu hari saya dapat email dari seseorang dari P Bangka, Abang Efran dan dia juga memperkenalkan saya pada abang Winarwan di Bandung dan dia telah memberi salisilahnya dari Lim Taw Kian. Kami bercabang sampai Tom Keling > Tok Razak yg berhujrah k Johor.
      Hari ini saya google nama itu dan kia bertemu disini.
      Alhamdullilah.

      • Abang Efran tu, msh sdre sye juge, Encek Hamdan….die anak adik emak Bpknya Abang Murtadha, Mask saye Yg Ilma, Ayah Saye A Dahlan, Muntok tempo dulu yg Bangun Sekolah Arab pertama se x, Almarhum ayah saye, bliau dulunya di zaman batavia, skolah di Kwitang, cume sy berumur 5 Bln kami pindah ke Pkp, ayah sye dpt kerje di PN TTB, atas usahe Abang Bunyamin Rasyidi, juge msh bertalian zuriat, adik emak sye A.Murtadha nikah dgn adiknye Yang Umi Kalsum, kite ni same2 berasal dari Muntok, dmk sdikit informasi, mungkin diantare penulis ini kite msh bertalian zuriat, Mkseh

  21. abang fariz Says:

    mentok kote yang saye banggaken….kote mentok selalu ade disetiap aliran dara kami…buat anak2 mentok..mari kite bangun kote mentok kite…

  22. indra Says:

    biar ku tinggel di s.liat ku sangat mencintai bangka dan ..ku sangat mencintai mentok khususnya……tampa bermaksud ikut2an ,.ku ge agik ade silsilah wan abdul hayat ( lim thau kian) cuma tu la,..la berape taun nie ku nyarik e..cuma dak ketemu2..kerna banyak dari nyai kami la ninggal…tapi ku ade nyimpen silsilah e…menurut cerite atok ku duluk kami punye keluarga di teluk rubiah..tapi dak tau siape…yang ku tahu name buyutku yang fatimah dan atok yut ku A.dahlan

  23. Iskandar Says:

    Bleh kirimkan ke email sye silsilah-silsisilah Abang dan Yang tu. Cz sye jga keturunan Abang dari Datuk Sye yg bernama Abang Moesa

  24. bener ghe kiu ne salah satu anak bangka e…. ku dak nyangka Bangka neh rupe e banyak meninggal kan sejarah” ok… :D

  25. Men ade sedare2 yg nyimpan silsilah boleh tengok dak?sebb’e yg di kmi lh ilang ,sye ni cucux dri A.abdullah/yanx aminah dimuntok/kp.teluk rubiah,moyang A.ahmad,buyut A.bakri,oneng2 A.zainal abidin..selanjut’e lh dk tw agik

  26. Marhan Says:

    Wah, boleh tu silisilah e dishare ke email ku, karena ku same sekali dak tau keturunan diatas nenekku. Nenekku name e Yang Saripah, atau biase dipanggil Yang Pek. Siape bae saudara saudara e ? :(. Ku cume tau kalok rumah e dulu dekat sungai Mentok dan salah satu monyang e bernama Tok Abas.
    Mudah mudahan silsilah tadi pacak membuat ku kenal lebih lanjut dengan keturunan saudara saudara nenek.

  27. Mkseh sdh dikirim, silahkan bergabung di :
    1. KOMUNITAS PEDULI BANGKA
    2. souvenir bangka
    3. Website http://www.kusukeni.com Aneka Kerajinan Khas Bangka Belitung
    Smg bisa menjalin persahabatan diantara kita secara positif.

  28. Everything is very open with a very clear explanation of the issues.
    It was truly informative. Your site is useful. Thank you
    for sharing!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: